SAMARINDA — Rendahnya tingkat literasi di Kota Samarinda disebut masih dipengaruhi keterbatasan fasilitas perpustakaan hingga minimnya sumber daya manusia. Kondisi itu dinilai membuat upaya membangun budaya membaca di masyarakat belum berjalan maksimal.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Sri Puji Astuti mengatakan jumlah koleksi dan variasi buku di perpustakaan daerah masih jauh tertinggal dibanding perpustakaan tingkat provinsi maupun nasional.
“Kalau dibandingkan perpustakaan provinsi atau nasional tentu kita masih jauh, baik jumlah buku maupun variasi judulnya,” kata Sri Puji Astuti (13/6/2026).
Menurutnya, peningkatan literasi tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Perpustakaan. Sekolah juga memiliki peran penting untuk membiasakan budaya membaca sejak dini.
Ia menjelaskan, saat ini hampir seluruh sekolah sudah memiliki perpustakaan sendiri dan mulai melakukan pembenahan layanan. Kondisinya disebut berbeda dibanding beberapa tahun lalu ketika perpustakaan sekolah sering ditempatkan di sudut belakang dan hanya dianggap tempat penyimpanan buku.
“Sekarang perpustakaan harus ditempatkan di lokasi yang strategis dan kualitasnya terus ditingkatkan,” ujarnya.
Meski begitu, perkembangan fasilitas perpustakaan dinilai masih lebih baik di tingkat SMA. Sementara di tingkat SD dan SMP, berbagai keterbatasan masih ditemukan, mulai dari ruang perpustakaan hingga koleksi buku yang tersedia.
“Kalau yang fasilitasnya sudah cukup baik itu kebanyakan SMA. SD dan SMP masih banyak keterbatasan,” katanya.
Selain fasilitas, persoalan kekurangan pustakawan juga menjadi kendala yang belum terselesaikan. Sri Puji menyebut jumlah tenaga pustakawan di Samarinda saat ini masih sangat terbatas.
“SDM pustakawan kita memang masih kurang,” ucapnya.
Ia menegaskan literasi tidak hanya soal membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami situasi di sekitar dan belajar dari berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
“Memahami lingkungan sekitar dan belajar dari peristiwa yang terjadi juga bagian dari literasi,” jelasnya.
Meski demikian, Sri Puji menilai keluarga tetap menjadi pondasi utama dalam membentuk budaya literasi anak. Peran orang tua disebut sangat menentukan dalam membangun kebiasaan membaca sejak usia dini.
“Kalau ingin budaya literasi meningkat, harus dimulai dari rumah. Orang tua juga harus memberi contoh kepada anak,” tutupnya. (adv/DPRD Samarinda)












