Samarinda — DPRD Kota Samarinda menilai pengembangan sektor kesenian dan kebudayaan di daerah belum berjalan maksimal, terutama dari sisi dukungan anggaran dan skema pelestarian yang dinilai belum jelas.
Wakil Ketua DPRD Samarinda, Celni Pita Sari, mengatakan potensi budaya lokal sebenarnya cukup besar untuk didorong sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun hingga kini, peluang tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kalau dikelola dengan baik dan profesional, budaya ini bisa jadi kekuatan ekonomi daerah,” kata Celni saat ditemui di Kantor DPRD Samarinda (26/4/2026).
Ia mencontohkan kelompok paduan suara Borneo Cantata yang telah lama berkiprah dan kerap mewakili Samarinda hingga Kalimantan Timur di berbagai ajang nasional maupun internasional.
Meski berprestasi, kelompok tersebut disebut masih mengandalkan pendanaan mandiri.
“Selama ini mereka pakai dana pribadi. Kalau menggunakan anggaran pemerintah, mekanismenya cukup panjang,” ujarnya.
Celni mendorong Organisasi Perangkat Daerah (OPD), khususnya Dinas Pendidikan, untuk lebih serius menggali dan mengembangkan potensi seni dan budaya.
Menurutnya, sektor ini tidak hanya berkaitan dengan pelestarian, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata.
Ia juga menyoroti perbandingan dukungan anggaran di daerah lain seperti Kutai Kartanegara dan Kutai Timur yang dinilai lebih progresif dalam mendukung pelestarian budaya.
“Di Kukar dan Kutim, anggaran untuk budaya bisa sampai Rp30 miliar. Ini yang perlu jadi evaluasi bagi Samarinda,” ucapnya.
Selain itu, Celni turut menyoroti pengelolaan aset budaya yang dinilai belum optimal, salah satunya Museum Samarinda.
Ia menyebut museum tersebut sebelumnya sempat mencatat puluhan ribu pengunjung, namun kini kondisinya kurang terawat.
“Sudah dibangun, tapi tidak diikuti dengan perawatan yang memadai. Akhirnya terbengkalai. Padahal kalau dimaksimalkan, ini bisa ikut meningkatkan PAD,” demikian. (ADV/DPRD SMD)







