SAMARINDA — Pemerataan fasilitas pendidikan di Kota Samarinda masih menjadi perhatian. Pemerintah daerah diminta tidak hanya memprioritaskan sekolah di kawasan pusat kota, tetapi juga memperkuat sarana dan kualitas pendidikan di wilayah pinggiran.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda Ismail Latisi mengatakan, peningkatan mutu pendidikan harus berjalan merata agar seluruh peserta didik mendapatkan kesempatan yang sama, tanpa melihat lokasi sekolah.
Menurutnya, masih terdapat sekolah di kawasan pinggiran yang membutuhkan perhatian, terutama dari sisi fasilitas ruang belajar dan dukungan tenaga pendidik.
“Jangan sampai kita hanya fokus pada sekolah yang ada di tengah kota, sementara sekolah di pinggiran terabaikan,” kata Ismail (26/7/2026).
Ia menilai penerapan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru menjadi langkah positif karena dapat mengurangi kesenjangan antara sekolah yang selama ini dianggap favorit dengan sekolah lainnya.
Dengan sistem tersebut, kata Ismail, orang tua tidak lagi hanya berorientasi memasukkan anak ke sekolah tertentu di pusat kota, melainkan mulai melihat kualitas pendidikan secara lebih merata.
Meski demikian, ia meminta pemerintah tetap melakukan pembenahan terhadap sekolah pinggiran, terutama yang masih memiliki keterbatasan infrastruktur.
“Kita berharap sekolah pinggiran juga diperhatikan. Jangan hanya sekolah di pusat kota. Masih ada ruang kelas yang perlu ditingkatkan dari bangunan sederhana menjadi permanen,” ujarnya.
Selain fasilitas fisik, Ismail juga menyoroti kebutuhan sekolah terhadap dukungan teknologi digital.
Menurutnya, perkembangan sistem pembelajaran saat ini menuntut sekolah di wilayah pinggiran memiliki akses yang sama terhadap fasilitas digital, termasuk penggunaan buku elektronik.
Ia berharap pemerintah daerah dapat mempercepat peningkatan fasilitas pendidikan di seluruh wilayah Samarinda, sehingga kesenjangan antara sekolah pusat kota dan pinggiran dapat dikurangi.
“Kita sudah masuk era digital. Penggunaan buku digital bisa membantu siswa belajar lebih mudah tanpa harus membawa banyak buku,” pungkas Ismail. (adv/dprd samarinda)











