SAMARINDA – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai bukan menjadi penyebab langsung atas melambungnya harga berbagai bahan pokok di Kota Samarinda saat ini. Lonjakan harga tersebut melainkan dipicu oleh efek domino dari membengkaknya biaya logistik dan transportasi angkutan pangan yang dipasok dari luar daerah.
Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda Joha Fajal menyoroti turunnya mata uang rupiah memicu kenaikan harga BBM impor, yang kemudian membebani ongkos transportasi distribusi pangan antar-pulau.
“Kalau dari sisi logika itu karena BBM, karena belanjanya kita tidak menggunakan dolar, tapi karena pengaruhnya dolar itu kaitannya dengan minyak,” katanya Kamis (11/6/2026).
Joha menjelaskan alur logis mengapa pelemahan rupiah berujung pada naiknya harga bahan pokok.
Sebagai negara yang masih mengimpor minyak mentah, Indonesia harus membelinya menggunakan dolar AS, sementara penjualan di dalam negeri menggunakan rupiah. Ketika rupiah melemah, otomatis biaya pengadaan energi dan BBM ikut membengkak.
“Dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS otomatis akan berpengaruh ke harga,” jelasnya.
Pembengkakan biaya energi ini berdampak ke sektor transportasi. Sektor logistik memegang kendali penuh atas fluktuasi harga bahan pokok di Samarinda.
Menurutnya, jika komoditas pangan diproduksi secara lokal dan tidak membutuhkan proses pengiriman yang panjang, harga di pasar tentunya akan tetap stabil.
Namun mayoritas pasokan pangan di Samarinda masih harus didatangkan dari luar pulau melalui rantai perjalanan yang sangat panjang.
Komoditas tersebut harus diangkut menggunakan kapal laut antar-pulau, lalu dibongkar dan didistribusikan lagi menggunakan armada truk. Seluruh moda transportasi ini sangat bergantung pada bahan bakar minyak.
“Namun karena distribusi barang menggunakan transportasi yang bergantung pada bahan bakar, hal itulah yang memicu kenaikan harga,” terangnya
Ia pun menekankan perlunya perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk menjaga jalur distribusi pangan tetap efisien, sehingga beban hidup masyarakat Samarinda tidak semakin berat di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.
“Seandainya bahan pokok itu tidak memerlukan transportasi, mungkin harganya tidak akan naik,” pungkasnya. (adv/DPRD Samarinda)











