Samarinda — Komisi IV DPRD Kota Samarinda prihatin atas meninggalnya seorang siswa SMK Negeri 4 Samarinda yang diduga akibat infeksi fatal setelah menggunakan sepatu sekolah yang kekecilan.
Peristiwa ini dinilai menjadi tamparan keras bagi akurasi penyaluran bantuan sosial di kota ini.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi, menyebut kasus tersebut menunjukkan masih lemahnya pendataan warga kurang mampu sehingga bantuan tidak menyentuh yang paling membutuhkan.
“Kita minta Dinas Sosial segera memperbaiki data. Harus jelas mana warga yang benar-benar membutuhkan agar bantuan tepat sasaran,” kata Ismail (3/5/2026).
Informasi yang dihimpun, korban terpaksa menggunakan sepatu sempit karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Kondisi itu memicu pembengkakan pada kaki yang kemudian menjalar hingga ke tubuh dan berujung pada kematian. Ironisnya, keluarga korban disebut tidak pernah menerima bantuan sosial.
Ismail menegaskan, meski pengelolaan SMK berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, namun status korban sebagai warga Samarinda tetap menjadi tanggung jawab pemerintah kota dalam aspek perlindungan sosial.
“Ini bukti ada masyarakat miskin yang terlewat. Jangan sampai kelemahan pendataan membuat warga terabaikan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti minimnya kepekaan di tingkat lingkungan. Peran ketua RT dan masyarakat sekitar dinilai penting untuk mendeteksi kondisi warga yang mengalami kesulitan ekonomi.
“Harus ada kepekaan. Ketua RT dan lingkungan sekitar seharusnya bisa lebih cepat mengetahui kondisi warganya,” tegasnya.
DPRD meminta aparat di tingkat bawah segera melaporkan jika menemukan warga yang mengalami krisis kesejahteraan agar bantuan pemerintah bisa segera disalurkan.
“Kasus ini jangan terulang. Kalau ada warga kesulitan, segera komunikasikan supaya pemerintah bisa hadir,” kata Ismail. (ADV/DPRD SMD)











